Jam empat pagi di kawasan Balai Kota Surabaya, suhu tercatat 26,1 derajat Celsius dengan kelembapan 86,6 persen. Dalam udara yang masih terasa bersahabat itu, peserta full marathon mengambil langkah pertama. Mereka menjadi gelombang awal dari hampir 11.000 pelari yang mengikuti Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 pada Minggu, 4 Oktober 2026, menurut laporan Infosurabaya.

Empat jam 27 menit kemudian, perlombaan tidak lagi berbicara tentang pace atau catatan waktu. Indikator panas di lapangan melonjak, panitia berkoordinasi dengan tim medis, lalu lomba lari kategori maraton dihentikan pada pukul 08.27 WIB. Weather flag dikibarkan sebagai tanda penghentian resmi perlombaan. Momen tersebut dicatat dalam unggahan Instagram jktlogy.

Di balik keputusan itu terdapat dua angka yang sekilas sulit dipertemukan. WBGT di area lomba sempat menyentuh 48 derajat Celsius, sementara BMKG Juanda mencatat suhu udara maksimum Surabaya sebesar 33,6 derajat Celsius.

Kedua angka itu tidak sedang mengukur hal yang sama. Perbedaannya menjelaskan mengapa pagi yang dimulai dalam kondisi sejuk bisa berakhir dengan penghentian lomba.

Pagi yang sejuk berubah dalam hitungan menit

Rangkaian start dimulai dari full marathon pukul 04.00 WIB. Half marathon menyusul pukul 04.30 WIB, kemudian 10K pukul 05.00 WIB dan 5K pukul 05.20 WIB. Saat tiga kategori berikutnya dimulai, suhu tercatat stabil di 23,1 derajat Celsius.

Kondisi itu tidak bertahan sampai akhir lomba. Menurut keterangan Race Director Safrita Aryana yang dimuat Infosurabaya, WBGT berada di kisaran 33 hingga 36 derajat Celsius mulai sekitar pukul 08.00. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, indikator melonjak ke kisaran 42 hingga 44 derajat Celsius dan sempat menyentuh 48 derajat Celsius.

Panitia lalu berkoordinasi dengan running doctors dan koordinator medis. Pada pukul 08.27 WIB, lomba lari kategori maraton resmi dihentikan demi keselamatan peserta yang masih berada di lintasan.

Urutan waktunya penting. Penghentian bukan diambil dari prakiraan cuaca beberapa jam sebelumnya, melainkan setelah kondisi di area lomba berubah cepat dan angka pada alat pemantauan meningkat tajam.

Keselamatan mengubah cara peserta mencapai finis

Setelah perlombaan dihentikan, panitia menawarkan evakuasi kepada pelari yang masih berada di rute. Peserta yang memilih melanjutkan perjalanan menuju garis finis tidak diperbolehkan berlari. Mereka diminta berjalan kaki, sementara fasilitas water station tetap disediakan.

Peserta yang tiba di garis finis tetap mendapat status finisher, medali, dan finisher jacket. Kebijakan tersebut menempatkan kondisi di lintasan sebagai keadaan yang tidak dapat dibebankan kepada pelari.

Bagi peserta, perubahan itu tentu bukan bagian dari rencana saat berangkat sebelum fajar. Target waktu, strategi pace, dan keinginan menuntaskan jarak harus berhenti ketika penilaian keselamatan menyatakan kondisi tidak lagi memungkinkan untuk berlari.

WBGT membaca beban panas, bukan hanya suhu udara

Wet Bulb Globe Temperature adalah indikator untuk memperkirakan tekanan panas pada tubuh, terutama ketika seseorang beraktivitas di bawah sinar matahari langsung. Berbeda dari termometer udara biasa, WBGT mempertimbangkan suhu, kelembapan, kecepatan angin, sudut matahari, serta radiasi matahari yang dipengaruhi tutupan awan.

Penjelasan National Weather Service menyebut WBGT digunakan sebagai panduan untuk mengelola aktivitas di bawah paparan matahari. Karena memasukkan lebih banyak unsur lingkungan, angkanya tidak boleh dibaca sebagai pengganti suhu udara yang biasa muncul dalam laporan cuaca.

Dalam lomba jarak jauh, perbedaan itu penting. Pelari tidak hanya menghadapi udara panas. Tubuh juga bekerja terus-menerus, menerima paparan matahari, dan dipengaruhi kelembapan serta pergerakan angin di lokasi tertentu. WBGT membantu penyelenggara menilai gabungan kondisi tersebut di area aktivitas.

Artinya, angka WBGT 48 derajat Celsius tidak otomatis berarti suhu udara Surabaya saat itu juga 48 derajat Celsius.

Angka panitia dan BMKG mengukur hal yang berbeda

Di satu sisi, panitia menggunakan WBGT di area lomba sebagai dasar pertimbangan keselamatan. Angkanya berada di kisaran 42 hingga 44 derajat Celsius dan sempat menyentuh 48 derajat Celsius. Di sisi lain, BMKG Juanda menyebut suhu udara maksimum aktual di Surabaya berada di angka 33,6 derajat Celsius.

Keterangan BMKG yang dirangkum Kita Indonesia Satu mengaitkan kondisi panas dengan puncak musim kemarau dan El Nino. BMKG juga menjelaskan bahwa suhu 33,6 derajat Celsius dapat terasa seperti 46 derajat Celsius, serta posisi alat ukur dapat memengaruhi hasil pengukuran.

Dua angka tersebut terlihat bertentangan jika sama-sama dibaca sebagai suhu udara. Namun, keduanya berasal dari jenis pengukuran dan konteks yang berbeda. Angka panitia merupakan pembacaan WBGT di lokasi lomba, sedangkan angka BMKG merujuk pada suhu udara. Perbedaan posisi alat turut membuat perbandingan langsung menjadi tidak sederhana.

Karena itu, angka 48 derajat Celsius lebih tepat dipahami sebagai angka indikator panas yang dilaporkan panitia, bukan suhu udara resmi Surabaya. Klarifikasi ini tidak menghapus kondisi panas yang dialami pelari. Justru di situlah fungsi WBGT, yaitu membaca tekanan panas di lokasi aktivitas dengan unsur yang lebih luas daripada suhu udara saja.

Dampak acara juga terasa di jalan kota

Insiden di lintasan bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian pagi itu. Penutupan dan pengalihan arus lalu lintas dilakukan bertahap mulai pukul 00.00 hingga 10.00 WIB. Kemacetan di sejumlah simpul jalan kemudian memicu protes warga di media sosial.

Keluhan tersebut terlihat lebih konkret dalam rekaman Instagram @_thinksmart.id. Seorang pengendara motor yang tertahan di barikade menyampaikan kekhawatiran akan terlambat bekerja dan mempertanyakan tidak adanya jalur alternatif yang dapat dilalui. Rekaman itu menunjukkan bahwa dampak penutupan jalan bukan sekadar antrean kendaraan, tetapi juga menyentuh warga yang tetap harus bekerja pada Minggu pagi.

Setelah keluhan warga ramai beredar, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Herry Purwadi, menyampaikan permohonan maaf atas perjalanan warga yang terganggu. Pernyataan itu dimuat Jatim Today setelah konferensi pers di Balai Kota.

Bagi penyelenggara event lari di tengah kota, pagi tersebut menyisakan dua catatan yang sama-sama nyata. Kondisi cuaca dapat berubah lebih cepat daripada rencana lomba, sementara pengaturan rute juga bersinggungan langsung dengan aktivitas warga.

ISOPLUS Marathon 2026 akhirnya bukan sekadar soal siapa yang lebih dulu menyentuh garis finis. Keputusan pukul 08.27 WIB menunjukkan bahwa ketika indikator keselamatan berubah, mengejar catatan waktu harus berhenti lebih dulu.

Kalender lari Surabaya terus berjalan setelah ISOPLUS Marathon. Surabaya Health Fest Run 2026 dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026. Buat pelari yang mulai melirik event berikutnya, persiapan matang tetap wajib. Kondisi tubuh, cuaca, hidrasi, dan sepatu yang sesuai sama-sama perlu diperhatikan.

Belum punya sepatu running atau belum yakin ingin langsung membeli? Sewa dulu di SEWOAE. Pastikan ukuran dan jadwal pemakaian, lalu fokus menyiapkan diri untuk race berikutnya.

Untuk melihat catatan waktu para pemenang dan gambaran acara secara lengkap, baca Update Hasil Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Lengkap dengan Daftar Juara dan Insiden Lapangan. Pembahasan berikutnya mengulas langkah praktis menghadapi lari saat cuaca panas.

Sumber rujukan

Infosurabaya

Kita Indonesia Satu

Jatim Today

National Weather Service

Instagram jktlogy

Instagram @_thinksmart.id

Kalender Lari